914 Tahun Tidore; Usia Bukan Sekedar Angka

0
64
Ridwan Oemar

Penulis : Ridwan Oemar

Pada dasarnya hari jadi memiliki makna yang sama dengan hari lahir menurut KBBI hari jadi memiliki kata dasar hari. Hari jadi adalah sebuah homonym karena arti-artinya memilki ejaan dan pelafalan yang sama tapi makna berbeda.

Kesultanan Tidore adalah kerajaan Islam yang berpusat di wilayah Kota Tidore Maluku Utara, Indonesia sekarang. Pada masa kejayaannya (sekitar abad ke-16 sampai abad ke-18), kerajaan ini menguasai sebagian besar Pulau Halmahera selatan, Pulau Buru, Pulau Seram, dan banyak pulau-pulau di pesisir Papua Barat.

Kerajaan Tidore terletak di sebelah Selatan Ternate. Menurut silsilah Raja-raja Ternate dan Tidore, Raja Tidore pertama adalah Muhammad Naqil yang naik tahta pada tahun 1081. Baru pada akhir abad ke-14, agama Islam dijadikan agama resmi Kerajaan Tidore oleh Raja Tidore ke-11, Sultan Djamaluddin, yang bersedia masuk Islam berkat dakwah Syekh Mansur dari Arab.

Kedaton Sultan Tidore

Kejayaan Kesultanan Tidore terjadi pada masa Sultan Saifuddin (1657-1689 M) yang berhasil membawa kemajuan hingga Tidore disegani oleh kerajaan-kerajaan lain di Kepulauan Maluku. Masa keemasan Kesultanan Tidore juga dirasakan di era kepemimpinan Sultan Nuku pada awal abad ke-19.

Sultan Nuku memperluas wilayah kekuasaan Tidore sampai ke Papua bagian Barat, Kepulauan Kei, Kepulauan Aru, bahkan sampai Kepulauan Pasifik.

Penjelasan diatas merupakan gambaran singkat tentang Kerajaan Tidore yang kini telah berusia Sembilan abad lebih. Tentu perjalanan panjang itu telah menempuh banyak jalan berlubang hingga tiba pada sebuah titik yang kita sebut kejayaan. Usia 914 tahun adalah usia yang dewasa untuk sebuah negeri yang dengan latar belakang sejarah yang begitu besar.

Perubahan dari bentuk pemerintahan kerajaan ke republik tentu membawa dampak bagi kerajaan-kerajaan yang ada di Nusantara baik sosial, politik, ekonomi dan budaya Tidak terkecuali Tidore. Adanya otonomi daerah atau desentralisasi sehingga Kota Tidore Kepulauan resmi berdiri pada tahun 2003 silam.

Baca Juga:  Beras di Boltim Alami Kenaikan Hingga Rp40.000

Tentu sebagai sebuah kerajaan kita cukup baik karena sampai pada usia 914 tahun kita masih dapat memperingati hari jadi Tidore. Hal ini berbeda dengan beberapa kerajaan yang hari-hari ini tidak lagi memperingati hari jadi kerajaan melainkan hari jadi daerah kabupaten, kota.

Penetapan dan peringatan usia yang kerdil untuk sebuah wilayah kerajaan yang memiliki kebesaran sejarah masa lalu tentu akan mengikis makna dari perdaban itu sendiri. Sebagai contoh coba kita lihat HUT daerah lain seperti Jakarta yang tahun ini akan memasuki usia 495 tahun. HUT Jakarta di dasarkan pada perebutan Sunda Kelapa dari Portugis oleh Fatahillah pada 22 juni 1957. Usia yang hampir lima abad itu setidaknya mampu melegitimasi kebesaran Jakarta.

Maka dari itu usia bukan sekedar angka bukan pula sekedar perayaan atau ritual yang diulang-ulang tiap tahunnya. Lebih dari itu usia merupakan gambaran dan bentuk penegasan terhadap kebesaran di masa lampau. Hal semacam ini tentu akan mempengaruhi psikologi masyarakat terutama anak mudanya terkait pemahaman sejarah.

Sampai hari ini masih sebagian anak muda Tidore yang masih buta dan tidak paham sejarah nenek moyangnya. Hal ini tentu mempengaruhi eksistensi sebagai sebuah wilayah kerajaan. Yang lebih urgent adalah bagaimana anak muda Tidore mempelajari dan memahami sejarah kemudian mengkontekskan perjuangan leluhur dimasa lalu dengan perjuangan hari-hari ini. Karena pada dasarnya sejarah selalu melahirkan inspiriasi untuk menciptakan gerakan hari ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here