Tutuyan, timurexpress.co, – Kelompok tani di Desa Tutuyan Dua, Kecamatan Tutuyan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) menjerit dan pasrah terhadap anjloknya harga cabai.
Padahal, iming-iming mendapat hasil yang memuaskan, justru terkendala harga yang menurun drastis.
Hancurnya harga cabai di pasaran Tutuyan, di duga lantaran masuknya cabai-cabai dari luar daerah.
Uman, petani cabai di Tutuyan II, menuturkan kekesalannya soal harga cabai yang menukik turun.
“Sudah ada beberapa orang yang mengambil uang terlebih dahulu ketika saya menawari untuk ikut memanen cabai saya. Waktu itu harga masih cukup tinggi diantara Rp50 ribu keatas per kilonya. Sehingga saya berani menyewa tenaga dengan harga petik Rp10 ribu per kilonya. Alhasil, harga cabai turun hingga Rp30 ribu, otomatis harga petik ikut turun hingga Rp10 ribu per kilo. Saya rugi Rp5 ribu per kilo,” terang Uman, kepada wartawan ini, Jumat (11/11/22).
Selain kerugian tersebut, Uman juga mengeluhkan soal biaya perawatan kebun dan cabainya.
“Kalau di hitung-hitung, saya rugi waktu dan tenaga. Biaya kebun hanya ‘klop’ dengan hasil jual cabai. Tidak ada lebihnya,” ujarnya.
Pun demikian, dirinya tetap optimis menunggu harga cabai hingga akhir tahun ini.
“Biasanya ketika bulan Desember harga akan naik lagi. Saya berharap mendapat lebih karna harga yang sudah stabil, juga menutup kerugian saya sebelumnya,” pungkas Uman. (Chimo)








